Sign up with your email address to be the first to know about new products, VIP offers, blog features & more.

[mc4wp_form id="5"]

Cerita Sejarah Mengenal Den Bagus Menot

By Posted on 0 3 m read 3.8K views

Den Bagus Menot atau Joko Menot adalah anak kandung  Tumenggung Mertowijoyo 1. Diketahui bahwa Mertowijoyo 1 adalah Bupati Kendal ke-7 yang menjabat pada tahun 1688-1700. Hal itu disampaikan oleh Mujiono Juru Kunci Petilasan makam Joko Menot, yang berlokasi di Dusun Mbirusari Desa Kalibuntu Wetan, Kecamatan Kendal Kota. Ia menyampaikan bahwa lahirnya Joko Menot ke dunia sudah menjadi anak yatim, karena sang Ibunda meninggal pada saat melahirkannya.

Menurutnya pada zaman penjajahan belanda, Tumenggung Mertowijoyo 1 mendapat tugas untuk ikut berperang dalam peperangan geger paku negaraan, walau sang istri sedang hamil tua usia 7 bulan, namun ia tetap berangkat karena jiwa kesatria untuk membela negeri merupakan harga mati bagi dirinya.

Beberapa Bulan kemudian Mertowijoyo 1 pulang dengan keadaan terluka parah, ia segera mengumpulkan para pejabat dan menyampaikan terkait penerus Bupati Kendal setelah dirinya, karena ia merasa sudah tidak kuat lagi dengan keadaan luka parah. Dalam rapat tersebut Mertowijoyo 1 menitipkan Kabupaten Kendal untuk sementara dan menitipkan sang anak yang nantinya akan lahir. Selainitu juga menyampaikan, jika keturunannya adalah seorang laki-laki maka dialah yang akan mewarisi tahta Kabupaten Kendal. Selang beberapa jam kemudian usai rapat, lahirlah putera Bahurekso yang diberi nama Joko Menot. Kebahagiaan Bahurekso atas kelahiran puterannya juga diikuti kesedihan karena meninggalnya sang isteri saat melahirkan.

Seminggu kemudian Mertowijoyo 1 meninggal dunia. Sebelum meninggal ia berpesan kepada pihak pejabat Kabupaten dan pihak keluarga agar setelah tumbuh dewasa berumur 17 tahun sang anak  diberi nama Joko Aminoto. Saat menginjak usia dewasa, bukan tahta yang didapatkan oleh Aminoto, tetapi malapetaka yang menimpa, sebab pejabat yang dititipi tahta justru mengingkari janjinya. Mereka berusaha menyingkirkan Aminoto dengan berbagai cara, seperti dilarung ke laut dan diracuni, namun selalu gagal.

Tidak hanya sampai di situ, usaha membunuh Aminoto pun dilakukan di dalam lingkungan kabupaten tetap saja gagal, karena Allah SWT berkendak lain. Akhirnya Kiai Kendil Wesi sebagai penasehat dan kasepuhan kabupaten pada masa itu menyuruh Aminoto untuk pergi dari lingkungan kabupaten, ia mengatakan kepada Aminoto jika harus mati, matilah karena Allah SWT, jangan sampai mati ditangan orang dzolim.

Den Bagus Menot pun pergi meninggalkan kabupaten, dengan berjalan ke arah barat, dan  pihak keluarga dari kabupaten terus mengejarnya. Dalam perjalanannya ia menemukan banyak hal seperti melihat pembunuhan orang tua yang hendak menolong dirinya yang menyisakan bagian tubuhnya saja seperti gembung, yang saat ini menjadi nama desa yaitu Bugangin. Kemudian menemukan pohon jambi yang sangat harum saat bersembunyi, maka saat ini dinamakan Desa Jambiarum, dan masih banyak lagi lainnya.

Diterangkan bahwa yang namahnya trah seorang raja atau darah biru pasti tidak jauh dari orang tuanya, ibarat buah jatuh tidak akan jauh dari pohonya, itulah yang menggambarkan Den Bagus Menot, karena pada usia remaja sudah memiliki kemampuan tenaga dalam yang tidak semua orang memiliki, yaitu mampu melubangi batu dengan jari tangan maupun dengan benda lainnya.

Joko Aminoto terus melanjutkan perjalanan hingga ia melihat ada sendang (mata air) yang berada dipinggiran sungai, kemudian mendekat untuk mandi masuk ke dalam sendang, hilang mukso dan tidak muncul kembali kepermukaan. Mengetahui hal itu, Kiai Kendil Wesi dengan ilmu sepiritualnya bersama dengan prajurit kabupaten datang ke lokasi tersebut mencium bau harum sendang dan melihat air sendang bening berwarna biru. Sehinnga pada tempat itu diberi nama Mbiru (biru) yang saat ini diberi nama Mbirusari. Tim Handal

Bagikan Artikel ini...