Sign up with your email address to be the first to know about new products, VIP offers, blog features & more.

[mc4wp_form id="5"]

Sate Bumbon Pegandon

By Posted on 0 2 m read 3.2K views

Sate bumbon Pegandon merupakan kuliner khas asli Pegandon yang sudah turun temurun. Untuk bisa menikmati sate daging sapi ini pada waktu makan siang orang harus rela antre cukup lama, terlebih pada hari-hari Idul Fitri.

Meski warungnya sudah menyebar di 3 Lokasi namun semuanya ramai pembeli. Dua warung berada di timur perempatan Pegandon, tepatnya di sebelah timur lampu bangjo.

Paket menu sate bumbon Pegandon ini cukup unik, terdiri dari beberapa tusuk sate daging sapi, sepiring nasi atau lonthong, dan semangkuk sayur lodeh gori atau nangka muda dan tauge.

“Sate kami dilengkapi dengan sambal kacang, irisan lombok hijau, bawang merah, dan tomat. Sate bumbon kami buat dari daging sapi segar tidak digodog. Cara membuatnya, daging segar kami potong kecil-kecil. Sebelum kami tusuk, daging kami beri ramuan bumbu sebanyak dua kali agar benar-benar meresap. Daging dan lemak benar-benar segar, tidak ada bahan pengawet, pewarna, ataupun perasa,” papar Nur Dap pemilik warung di sela-sela melayani pembeli.

“Cara penyajian sesuai selera, sayur dapat langsung dicampur dengan nasi atau dalam mangkuk secara terpisah. Ditambah dengan kerupuk dan minuman satu gelas pasti akan membuat perut kenyang,” kata Nur Dap tersenyum.

“Bapak saya, Sarmadi memulai merintis usaha sate ini di Gemuh pada tahun 1985. Bapak menjajakan satenya dengan dipikul keliling dari satu kampung ke kampung lain. Berangkat pagi dan pulang malam ataupun basah kuyup kehujanan sudah biasa…,” tuturnya.

“Pada suatu ketika pada saat jembatan Kali Bodri Pegandon putus, bapak nggak bisa pulang ke Gemuh karena terhalang banjir di Kali Bodri. Peristiwa ini ternyata justru memberi inspirasi dan memotifasi bapak untuk punya usaha yang menetap di Pegandon. Kemudian dimulailah usaha secara kecil-kecilan di barat perempatan Pegandon pada tahun 1995 yang kemudian bergeser ke timur perempatan hingga sekarang yang kami kelola”

Dengan berbekal nama Sarmadi yang sudah dikenal, anak – anak Sarmadi kemudian menggunakan nama warungnya dengan tambahan Sarmadi Putra. Warung pertama dikelola oleh Nur Rochim yang lebih dikenal dengan Nur Dap dan warung kedua dikelola oleh Rochmad. Anak Sarmadi yang perempuan juga pernah mencoba membuka di sekitar Balai Desa Pegandon dan di Jalan Sunan Abinawa Lanji namun kemudian tutup. Anaknya yang lain, Junaidi kini membuka warung di Jalan Tentara Pelajar Tunggulrejo, timur Hotel Sri Mulyo.

Warung Nur Dap buka dari jam 10 pagi sampai 8 malam. Untuk bisa mencicipi Sate Bumbon Pegandon bukanlah hal sulit karena harganya yang terjangkau. Satu porsi sate (5 tusuk), nasi, dan sayur campur cukup dihargai 27 ribu rupiah saja. Makanya tak heran jika selalu ramai pembeli.

“Satu hari kami dapat menjual sekitar 500 – 800 tusuk dan pada hari-hari idul fitri dapat menjual 3000 tusuk,” katanya bangga. (01).

Bagikan Artikel ini...